Karya : Maharani Hidakuswanto
“innalillahi” kata si pemuda, “massyaallah, siapa yang menempatkannya di tempat ini?!”lanjut si tua. Dua orang laki-laki yang hampir jatuh dari sepeda itu melanjutkan perjalanan pulang , “masih ada saja ya kek orang yang masih percaya dengan hal seperti itu” Tanya si pemuda setelah melewati perempatan yang di tengahnya ada sesaji berupa beras, uang receh dan bermacam-macam bunga yang hampir ditabraknya. “ ya begitulah pola pikir masyarakat di lingkungan kita ini Lim, hal seperti inilah yang menjadi tanggung jawab kita untuk bisa merubah kebiasaan macam itu” kata si Tua itu yang tak lain adalah kakek dari Abdul Halim sang pemuda tangguh, Beliau bukanlah Priyayi, dukun atau muddin melainkan seorang dai yang berceramah dari kampung ke kampung untuk menyampaikan ajaran Nabi Muhammad kepada seluruh ummat islam dikawasan pantai selatan dimana ia tinggal.
Keheningan malam kampung terpencil di Bantul kian nyata,sesekali angin pantai menyentuh lembut kulit, gemuruh ombak sayup-sayup terdengar , kampung demi kampung yang mereka lewati bakdal pengajian nampak sepi, hanya satu dua tempat yang masih ada beberapa orang melek, “ wah pak kyai baru pulang ngaji” teriak laki-laki tengah baya yang duduk silo dengan sarung dipundak kanannya, beberapa orang lainya cuek dengan kartu remi di tanganya dan gelas-gelas berisi kopi di depanya. “assalamu’alaikum” sapa kakek Abdullah ketika melewati gardu dimana orang-orang itu duduk dengan dosa disekelilingnya. Gardu itu terletak di kampung dimana Abdul Halim dan kakek Abdullah tinggal. Kakek Abdullah bukanlah orang asli kampung itu, Beliau dan keluarganya asli Jawa timur dan beliau menjadi pegawai KUA di kecamatan yang mau tidak mau memaksa beliau dan keluarganya hidup di lingkungan itu. Abdul Halim atau yang sering dipanggil Halim adalah cucu satu-satunya dari kakek Abdullah, Halim dan ibunya hidup bersama sang kakek sejak ayahnya meninggal.
“assalamu’alaikum” Halim dan kakeknya hampir bersamaan mengucap salam ketika sepeda yang mereka naiki sampai di depan pintu rumah sederhana itu. “waalaikum salam”, perempuan tengah baya itu menjawabnya dan membuka pintu, “Alhamdulillah, ayo nak segera ganti baju, gosok gigi, wudhu dan segera tidur, supaya besuk tidak kesiangan” kata sang ibu dan menutup pintu itu kembali. Halim seperti biasa mensucikan dirinya sebelum tidur.
Si pemuda itu merebahkan badanya ditempat tidur yang sederhana, dua tanganya dilipat untuk menyangga kepalanya, “ akankah kampung yang aku tinggali akan seperti ini selamanya, ini bukan zaman jahiliah tapi ini sudah zaman modern” katanya dalam hati sambil menerawang atap-atap kamarnya mengingat-ingat cerita zaman Nabi. Bukan malam itu saja ia berfikir akan hal itu, namun seiring berjalanya waktu dengan benak fikiran yang sama ia semakin berkeinginan untuk segera memperbaiki keadaan social dan kebiasaan masyarakat ditempat tinggalnya, apalagi kawasan ia tinggal adalah kawasan yang mempunyai potensi alam yang sangat indah, namun sayang Pemda tidak begitu memperhatikan, karena kawasan itu tidak mempunyai budaya yang menonjol untuk dipromosikan kepada wisatawan, berbeda dengan pantai-pantai disekitarnya seperti Parangtritis, Depok dan sebagainya. Malam yang semakin dingin mengantarkannya dalam lelap mimpinya.
Dua pertiga malam ia selalu bangun untuk melaksanakan sholat tahajud, seperti malam itu juga. “ Ya Allah, Hanya engkaulah sang Maha pemberi kemudahan, berikanlah hambaMu ini kemudahan, kelancaran dan kesuksesan untuk MTQ esok hari” sepenggal doa ditambahkan Halim pada malam itu, karena esok ia akan maju MTQ tingkat provinsi.
“ Shodakallahul’adzim” suara merdu itu terdengar dari sudut bangunan tua di tengah kota Jogja, tak lain dari panggung MTQ, sorak dan tepuk tangan menghiasi akhir bacaan ayat suci yang disampaikan oleh Halim . “Subhanallah, indah, merdu sekali suara kamu Lim, aku bisa kalah ini” puji Shidiq yang menemani Halim di samping panggung,Shidiq adalah peserta lomba yang baru ia kenal di awal perlombaan itu,, “terimakasih Diq, penampilanmu tadi juga special ”jawab Halim dengan senyumnya, lalu mereka berjalan ketempat menuju tempat duduk. Banyak hal yang diperbincangkan dua orang pemuda itu, mulai dari alamat mereka,persiapan Ujian Akhir yang akan mereka tempuh bulan depan, buku-buku bacaan yang mereka senangi hingga tokoh yang mereka idolakan. “ nanti malam berangkat kan Lim di Lapangan Trirenggo?” Tanya Shidiq, “Insyaallah Diq” kata Halim singkat, “katanya penggemar Kyai Mustofa Bisri dan penggemar setia Habib Syech, masa ngga berangkat” canda Sidiq, “ semoga Allah memberikan kesempatan kakekku untuk menemaniku Diq” kata Halim, “lhoh, kenapa ngga bareng sama teman-temanmu saja Lim?” Tanya Shidiq “ hwuala, anak-anak muda dilingkunganku itu hampir sama sekali belum tersentuh agama Diq, baru beberapa orang saja yang menyadari akan pentingnya agama dalam hidup ini, aku dan kakekku baru proses untuk memperbaiki kondisi masyarakat di sekitarku” jelas Halim melas, “apakah tak ada tokoh seperguruan dengan kakekmu di kampungmu Lim?” Shidiq kembali bertanya, “aku sekeluarga pendata…..”, “brak”, seorang pemuda seumuran Halim berlari menabraknya dengan air teh yang menumpahi bajunya, “heih kalau jalan lihat-lihat dong, mentang-mentang dapat tepuk tangan dari hadirin berlagak sok-sokan kau” kata pemuda itu ketus, “maaf jika saya yang salah” jawab Halim singkat, ia tau bahwa pemuda saingannya lomba itu sejak tadi tlah memperlihatkan ketidaksukaanya pada dirinya. “ kamu ga papa kan Lim?” Shidiq panik, “ngga papa Diq, tenang saja, Cuma basah sedikit, oh iya aku lanjutkan perbincangan tadi” jawab Halim sambil membersihkan sebagian air teh yang membasahi bajunya. “ hanya ada satu tokoh yang disegani dan dihormati masyarakat, beliau adalah mbah muddin, mbah muddin mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat di sekitarku, namun sejauh ini keotoriteran mbah muddin dalam mengurusi agama sama sekali belum membawa titik terang bagi masyarakat Diq” jelas Halim panjang, “ spesifiknya seperti apa Lim?”,Shidiq belum begitu mengerti dengan apa yang disampaikan Halim, sambil berbincang mereka duduk di kursi barisan terakhir yang disediakan panitia lomba “ orang-orang NU mempunyai kebiasaan mengadakan slametan pada acara kematian dan sebagainya, hal itu tentu saja baik, karena mendoakan orang yang telah wafat supaya diberi ketenangan di sisi Allah, namun mereka juga masih memberikan sesaji untuk orang yang sudah meninggal, hingga kadang terlampau menjadi Syirik, di acara hajatan juga masih sering nanggap wayang, kethoprak, jathilan yang ujung-ujungnya pada budaya perjudian,massyaallah” jelas Halim. “parah juga ya Lim masyarakat di sekitarmu” Sidiq merasa prihatin dengan cerita Halim. Masih banyak hal yang mereka ceritakan, mereka berupaya saling memberi solusi. Sungguh asyik perbincangan kaum intelek muda seperti Halim dan Shidiq.
Waktu yang mereka nanti tiba, yaitu pengumuman juara MTQ, disamping Thropy Utama Gubernur yang diperebutkan yakni uang tunai senilai dua juta rupiah yang menjadi semengat mereka. “ Hadirin yang berbahagia, Juara harapan satu MTQ tingkat provinsi Yogyakarta tahun ini diraih oleh ananda Ahmad Shidiq dari MAN 2 Jogjakarta”, Shidiq tersenyum bahagia atas prestasinya, lalu ia maju ke atas panggung. Setealah juara tiga dan dua diumumkan, sang pembawa acara kembali membuat tegang para hadirin dan peserta lomba khususnya. “ Juara satu lomba Qiroah tingkat provinsi tahun ini diraih oleh ananda Abdul Halim dari SMA Ma’arif 1 Bantul”, semua mata tertuju pada Halim, “Alhamdulillah” ia mensyukurinya. Dengan gembira ia membawa pulang Thropy Gubernur dan uang tunai.
Panas terik matahari siang itu tidak menghentikan langkah Halim pada kedai es yang biasa dilakukan anak-anak sekolah, “ Halim”, suara itu terdengar dari telinganya, ia berhenti dan menoleh. “ eh Ali, assalamu’alaikum”, Halim menyapa dan mengulurkan tangan pada pemuda seusianya yang bernama Ali, ia adalah tetangga Halim orangtuanya menjadi pengusaha geplak, namun sayang masyarakat lain belum mau mengikuti jejak orang tua Ali. “waalaikum salam Lim, nampaknya wajahmu ceria sekali” Ali mencoba menebakknya.”Alhamdulillah Li, tadi aku meraih juara MTQ tingkat provinsi, ada apa gerangan Li?” Tanya Halim, “begini Lim, aku itu mendapat amanat dari sekolah untuk mengikuti lomba pidato, padahal aku tidak bisa sama sekali, makanya aku mau minta tolong ke kamu untuk mengajariku” Ali menyampaikan maksudnya. “dengan senang hati Li, aku akan berusaha membantumu” jawab Halim, “bagaimana jika nanti malam kamu ikut aku saja, ada pengajian di lapangan Trirenggo, yang ngisi beliau Kyai Mustofa Bisri, dan sholawatnya Habib syech serta Ahbabul Mustofa,aku yakin kamu akan mendapat inspirasi dari Beliau” Halim mencoba menawarkan. “Wah boleh banget Lim, nanti malam aku akan mengajak si Lukman, pasti dia mau” kata Ali. Halim tak menyangka jika ada I’tikad baik dari pemuda dikampungnya, ia merasa sangat senang karena ia akan mendapat teman untuk memperjuangkan missinya.
Malam itu menjadi malam yang spesial bagi Halim, ia bersyukur diberi kesempatan untuk menghadiri pengajian dengan teman-temanya, “ Shidiq” pelan Halim berkata dari kejauhan melihat orang yang tadi dikenalnya, Halim mencoba maju mendekati panggung untuk meyakinkan penglihatanya. Ia baru tau bahwa Shidiq adalah salah satu personel Ahbabul Mostofa. “assalamu’alaikum Diq” Halim,kakek Abdullah dan dua temanya menghampiri Shidiq usai tampil,mereka saling berbincang dan berkenalan satu sama lain.
Malam itu tak seperti biasanya, Hasrat Halim tak bisa ia sembunyikan “Kakek, bolehkah aku mengajak Ali dan Luqman berlatih terbangan?” Halim memberanikan diri mengungkapkan keinginannya pada sang kakek, “Tujuan kamu apa, bukankah itu terlalu berani untuk kamu lakukan?” Kakek Abdullah sedikit terkejut dengan pertanyaan Halim. “ngga ada salahnya kek mencoba, aku mempunyai uang tabungan untuk membeli alat hadroh, dan aku akan minta tolong Shidiq untuk mengajarinya” Halim meyakinkan kakeknya. “Ya kalau memang itu maumu ya ngga papa, dengan satu syarat, itu boleh kamu lakukan setelah kamu selesai Ujian” Kakek Abdullah mengizinkanya.
Satu setengah bulan sudah rencana itu termakan waktu, Halim sudah menyampaikan maksudnya kepada Shidiq, hari itu Shidiq silaturrahmi kerumah Halim, Halim berjanji jika Shidiq berkunjung kerumahnya ia akan mengajak Shidiq berjalan-jalan ke pantai yang pernah ia ceritakan.
Butiran pasir berlari berkejaran dibalik langkah kaki kedua pemuda tangguh yang menyusuri tepian pantai itu , nyanyian ombak dan hamparan laut maha luas memberikan kesempatan kedua anak adam untuk mengkajinya. “Subhanallah, indah banget Lim, Allah masih memberikanku kesempatan untuk menikmati kesucian CiptaanNya yang belum terjamah tangan-tangan makhluknya, sayang sekali potensi seperti ini jika hanya terus menerus dibiarkan tanpa dimanfaatkan “ kata Shidiq terkagum-kagum. “aku masih punya rencana Diq, jika hadroh yang akan kita rintis ini membuahkan hasil, maka akan mempermudah akses untuk menghimpun masyarakat untuk mempromosikan tempat ini dengan budaya yang khas dan islami” Halim mengembangkan buah pikiranya.
Dua bulan sudah lantunan sholawat hampir setiap malam terdengar di pesisir pantai selatan, anak muda yang dulunya suka ugal-ugalan kini mereka mau menyalurkan bakatnya pada musik yang berupa sholawat, mereka berperan sebagai personil hadroh itu, ada yang memainkan terbang, menjadi vocal atau hanya jadi backing vocal saja. Kemajuan di bidang lain mulai terlihat, grup hadroh ini meluangkan waktunya setiap malam jumat untuk mengadakan yaasinan, tak tanggung-tanggung jamaahnya ternyata tak hanya dari kalangan muda saja, namun dari ibu-ibu, bapak-bapak hingga anak-anak. Kondisi sosial masyarakatpun berangsur membaik,perjudian perlahan kian menghilang.
Mutiara senja menyibakkan berjuta makna dibalik semburat jingga, adzan magrib berkumandang seraya burung-burung pelican kembali ke sarangnya. Langgar yang telah lama ditinggalkan kini mulai hidup kembali. Bahkan Halim dan teman-temanya mengadakan pembelajaran iqro bagi anak-anak, “ Lim, usai sholat isya nanti aku mau bicara sama kamu”Ali menghampiri Halim.
“begini Lim, sejak kedatangan si Abi banyak hal yang menjadi simpang siur, katanya yaasinan itu bid’ah, sholawatan dan hadroh itu juga bid’ah, banyak masyarakat yang terhasut oleh kata-katanya, mereka percaya karena mereka tau kalau si Abi itu jebolan pondok pesantren”Ali cemas menyampaikanya, Abi adalah orang yang telah menumpahkan air teh pada Halim saat MTQ, ia kini berada dikampung Halim karena ikut tinggal bersama mbah muddin yang tak lain adalah pamanya, Halim masih mengingatnya,dalam hatinya berkata” massyaallah, hal buruk apalagi yang menghalangi niat baikku, aku tak boleh suudzon”. “ jangan khawatir Li, Allah pasti akan memberikan jalan kepada hambaNya yang berbuat kebaikan meski ada jalan yang menyesatkan” Kata Halim bijak. “ aku takut jamaah kita akan berpindah padanya” Ali kembali cemas. “tidak, percayakan, dakwah kita mempunyai dasar yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan” halim kembali menegaskanya. “nanti, sebelum latihan teman-teman kita ajak bicara tentang maslah ini, kita cari jalan keluarnya bersama” Halim menambahkanya, hari-hari dimanfaatkan oleh Grup Hadroh itu untuk berlatih, karena satu minggu lagi akan mengikuti festival sholawat dan hadroh yang akan diadakan pimpinan cabang NU kabupaten Bantul.
Masjid Agung Bantul malam itu berhiasakan alunan sholawat,melalui judul sholawat Ya Rosullallahi,Ya Badrotim dan Qul Ya Adhim, Group Hadroh rintisan baru itu mendapat juara satu, Betapa mengejutkan para hadirin yang datang malam itu termasuk Bupati Bantul, banyak perbincangan bahwa kampung Kwaru yang terkenal kolot itu kini mempunyai prestasi di bidang agama. Bapak Bupati Bantul mempunyai rencana, mewujudkan kawasan pantai itu menjadi kawasan wisata dengan budaya Islami.
Melalui forum pengajian yang frekwensinya semakin sering diadakan kini mempermudah komunikasi masyarakat, dengan penuh kesadaran masyarakat akan mengadakan bersih pantai, untuk menata kawasan pantai. “ Nak Halim, bapak minta persiapan untuk acara peresmian dibukanya pantai ini sebagai pantai indah bernuansa islami, mohon dikoordinator untuk hadrohnya, karena hadroh akan menjadi cirri budaya dikawasan wisata kita” pak Lurah memerintah Halim. Dengan sepenuh hati Halim semangat 45 berusaha mensukseskan acara itu, Kakek Abdullah menjadi motor penggerak warga untuk persiapan tempatnya. Bahkan sebelumnya kakek Abdullah berinisiatif membuat tempat singgah dengan model bangunan masjid mini, karena hal serupa tidak pernah ditemukan di tempat wisata lain termasuk di Parangtritis ataupun Pandansimo.
“ Hadirin yang saya hormati, dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim, tempat wisata bernuansa islami yang diberi nama pantai RABANI(Rindang Asri Bernuansa Islami) resmi dibuka” Bapak Sri Sultan HB X meresmikan pantai itu, dilanjutkan pemotongan tumpeng diiringi sholawat Thola’al Badru’Alaina. Tamu yang hadir pada kesempatan itu tidak hanya dari masyarakat setempat, bahkan pemerintah pemerintah daerah,provinsi hingga touris asing. Namun ada sesuatu yang kurang enak dirasa Halim, entah apa itu. Padahal semua orang bersuka ria dengan perjuangan Halim dan kakek Abdullah.
Pucuk-pucuk cemara seakan mengarah pada ufuk barat, mentari bersiap pulang ke peraduanya, senandung ombak menjemput adzan magrib,hanya tinggal beberapa orang yang masih tinggal di lokasi peresmian, yakni panitia yang tak lain adalah beberapa jamaah yaasin dan hadroh. “ Puas kamu makhluk yang menyesetkan, lihatlah dia, orang yang selama ini Berjaya di atas penderitaan warga Kwaru!” Abi dan segerombolan orang datang di lokasi itu, Halim yang ditunjuk sangat kaget sekali, “ada apa ini?” Tanya kakek Abdullah, “sudahlah tua, kamu diam, cucumu telah mencuri duit warga untuk membeli alat hadroh hingga bisa dipamerkan kepada bapak Bupati” Nada bicara Abi semakin tinggi. “ aku tak pernah melakukan hal sekeji itu” kata Halim tegas, ia tau bahwa Abi belum puas menghasut hingga membuat fitnah sekejam itu. “ jangan sembarangan bicara, aku tak pernah mengajarkan hal yang sekeji itu kepada cucuku” kakek Abdullah merasa marah cucunya dianggap pencuri. Sore di pesisir Kwaru yang penuh suka cita itu berkata lain kepada takdir kakek Abdullah, Abi dan orang-orang yang dibawanya menyerang kakek Abdullah, Halim, Ali dan Luqman.Kakek Abdullah yang energinya tak sekuat cucunya tidak bisa mempertahankan dirinya, cucuran darah karena pukulan orang-orang tak bertanggung jawab itu terus mengalir dari badan tua kakek Abdullah. “La’illahaillallah” kata terakhir terucap dari bibir kakek Abdullah. Kakek Abdullah pulang menghadap Allah SWT
Senja itu tlah menjadi senja selama lamanya bagi kakek Abdullah.Perjuangan kakek Abdullah untuk memperjuangkan kebudayaan islam sebagai ujung tombak pariwisata islami itupun harus dibayar dengan nyawa. Kakek Abdullah dimakamkan di kawasan khusus sekitar pantai Rabani. Seperti makam Syech Maulana Magribi, makam kakek Abdullah pun sering diziarahi.
Kesaksian angin yang berhembus, keindahan kilau mutiara di tengah samudra, mengingatkan akan kokohnya karang di hati Halim dan kakek Abdullah dalam memperjuangkan budaya dan agamanya, berjuta dzarrah yang menempel di pasir serta kesucian alam Kwaru mampu mempersembahkan keindahan pesona wisata pantai Rabani.
Persembahan di ultahku ke 18
Untuk Ayahanda dan Ibunda tercinta
Pagergunung, 19 Februari 2010
(Maharani Hidakuswanto)


2 komentar:
Apik ran, lanjutkan berkarya. Berbakat kau jadi penulis, nek isa sik rada dawa ko 10 lembar dadi macane marem...
weeessss,,kui jenenge cerpen mas,,,neh dowo jenenge novel,,neh wes dadi novel beda meneh,,,eneg regane....hehehehe
Post a Comment