News Update :

Doa dan Cinta di atas Sajadah kesabaran

Oleh : N.L. Maharani Hidakuswanto

Kilau mutiara senja tlah menyibakkan berjuta makna di balik semburat jingga .Gesekan daun bambu dan suara jangkrik memecah keheningan kampungku, sebuah kampung kecil di pelosok kabupaten, Sesekali suara adzan nian terdengar dari surau di ujung kampung. Ku ambil air wudhu dari padasan di belakang rumah, subhanallah, tak sengaja ku lihat indahnya sasandara bersanding aruna, begitu agung ciptaan Allah, seakan mereka tersenyum padaku mengajak berdzikir. Begitulah selintas kekagumanku. Setelah berwudhu kulangkahkan kakiku menuju ruang sholat yang sangat sederhana. Allahuakbar, akupun melaksanakan sholat magrib.Usai menjalankan sholat, kulangkahkan kaki menuju suatu ruang sederhana dimana Bapak terbaring tak berdaya, dengan telaten ku tuntun Bapak tayamum dan sholat dengan berbaring. Bapakku adalah seorang buruh tani, sedangkan Ibuku seorang wanita gigih pembuat tempe, semenjak Bapak sakit dan tak bisa bekerja lagi hanya Ibu yang menopang hidup keluargaku serta membiayai sekolah aku dan adikku, untuk biaya pengobatan Bapakpun kami tak sanggup lagi, sehingga kondisi Bapak makin hari makin lemah. Kadang aku dan adikku mencari kayu bakar untuk di jual di pasar,setiap hari aku juga membawa mendoan ke sekolah, hasilnya aku kumpulkan untuk membeli buku dsb.
Senja ini mengantarkan malam yang serasa cepat, setelah tadarus kumandang adzan isya’ kian terdengar, seperti waktu sholat lainya, aku sholat lalu membimbing Bapak untuk tayamum dan sholat. Dengan cahaya lampu yang minimal ku bersihkan sepatu, karena esok hari aku akan mewakili lomba cerdas cermat di kabupaten. “ Le, tengoklah Bapakmu lagi, beliau pengen ngomong sama kamu”, suara Ibu memecah keheningan, ku langkahkan kakiku di mana tempat Bapak berbaring, aku duduk di kursi dekat tempat tidur Bapak “Le Ton, kamu sekarang udah gedhe, sedelo maneh kowe kuliah, Bapak pesen, kowe dadio bocah kang bisa manfaati marang liya lan isa dadi tuladha dening adhimu lan keluargamu sesuk” Bapak berbicara terbata-bata, tak seperti biasa Bapak berbicara seperti itu, memberikan sebuah amanat untukku.
Jam menunjukkan angka dua, aku bangun mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud, iaph hari ini adalah hari senin jadi aku harus puasa, setelah sholat tahajud kulangkahkan kakiku ke dapur, aku tau Ibu tak banyak menyimpan makanan, hanya tempe goreng yang selalu ada itupun karena Ibu yang membuatnya, serta sebungkus kecap. Dengan makanan yang sederhana itu insyaallah akan memberikanku kekuatan untuk sehari nanti. Dinginya malam semakin mengusik, hal ini sudah menjadi kebiasaanku, bukan lagi waktu untuk tidur, melainkan untuk belajar dan menunggu kumandang subuh dan melanjutkannya dengan pekerjaan rumah terutama menyiapkan mendoan yang akan kujajakan di sekolah, karena pagi-pagi sekali Ibu sudah ke pasar menjual tempe.
Jam enam pagi aku siap berangkat sekolah, aku harus berjalan sekitar empat puluh menit untuk sampai ke sekolah, itupun aku melewati jalan setapak serta pematang sawah, karena jika aku melewati jalan yang biasa dilalui angkutan desa terlampau jauh. Dengan penuh semangat serta iringan doa selalu ku panjatkan pada Allah SWT, apalagi nanti aku akan mengikuti lomba. Jalan yang jauh serta energy yang ekstra bukanlah penghalang untukku, meskipun aku hanya anak kampung aku ingin maju. Gerbang SMA Wijaya Bhakti dimana aku sekolah tlah nampak di depan mata, “assalamu’alaikum Ton, gimana siap kan?” Akhlis dan Abim temanku yang akan maju lomba denganku tlah menyambut kedatanganku dengan rona semangat, “waalaikum salam Khlis, Bim , insyaallah siap, eh sebentar ya, aku ke kantin dulu, biasa mau nitipin ini” jawabku sambil menunjukkan tas kresek yang berisi mendoan. “eh nak Toni, sudah mruput, Ibu aja baru buka, denger-denger mau lomba ni?” sapa bu Siti si pemilik kantin dengan ramah. “iya bu, makanya saya berangkat pagi-pagi, karena saya akan mempersiapkan untuk lomba, ini bu nitip ya” jawabku sambil meletakkan mendoan. “iya nak, tinggal situ aja, semangat ya, Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberi kemudahan, trus dapet juara satu”kata bu Siti.
Mobil kijang milik pak Rochmi tlah terparkir di depan sekolah, “Ton ayo cepet, udah ditunggu di mobil tu” Akhlis memanggilku. Akupun segera masuk mobil. Mobil melaju melewati jalan kota kabupaten, dan berhenti di sebuah gedung yang begitu megah. Jarum jam mengantarku memasuki waktu dimaulainya lomba itu, ketegangan demi ketegangan mulai kami rasakan. Hingga pada akhirnya teamku dan team dari SMA Pembina harus memperebutkan soal terakhir, soal terakhir yang diberikan adalah soal matematika yang kebetulan bisa langsung aku kerjakan dengan cepat dan Alhamdulillah benar. Betapa senangnya team kami, memperoleh point unggul dan membawa pulang thropy, sertifikat,uang pembinaan, dan sebuah motivasi besar beasiswa yang diperoleh jika diantara kami bisa melanjutkan di Perguruan tinggi Negeri. Aku ingin sekali segera kembali kerumah untuk mengabarkan berita bahagian ini kepada Bapak dan Ibu, sebagai penyemangat Bapak agar lekas sehat.
Hari itu tak seperti biasanya, Pak Rochmi, Pak Mardi, Bu Eni, Akhlis dan Abim turut mengantarkan kebahagian itu hingga rumahku. Namun, ada hal mengejutkan ketika mobil yang kami naiki sampai di dekat rumahku. Bendera putih terpasang di gang dekat rumahku, dan banyak orang yang datang menuju rumahku. Thropy, sertifikat dan uang pembinaan yang akan segera ku beritahukan kepada Ibu dan Bapak jatuh begitu saja ketika Ibu keluar dari pintu dan memelukku. Akupun segera tau apa yang terjadi, Bapak telah kembali ke Rahmatullah dan amanat yang tadi malam disampaikan Bapak adalah amanat terakhir untukku.
Mungkin inilah bukti rasa Cinta Allah padaku, dengan memberi cobaan ini mengharuskan aku tabah, dan lebih rajin berusaha. sebagai anak laki-laki yang pertama di keluargaku aku harus mengemban tanggung jawab seperti kepala keluarga. Beberapa hari setelah Bapak meninggal, dua orang setengah baya datang kerumahku. “ada yang bisa saya bantu pak?”, tanyaku setelah ku persilakan mereka masuk. “Begini dik, kami berdua adalah pengurus panti asuhan Misfalah, maksud kedatangan kami yang pertama adalah silaturahmi, dan selanjutnya adalah ingin mengajak adik menjadi anak asuh kami panti asuhan, sampai akhir pendidikan SMA kami akan membiayai sekolah adik serta memberi jaminan hidup selama SMA”, jelas Bapak itu, Ibu yang berada di sampingku hanya bisa memandangiku, aku tau, Ibu berat membiayai sekolah aku dan adikku. “ begini pak, bagaimana jika adik saya saja, karena adik saya masih SMP dan masa depanya masih panjang, lalu saya dirumah saja membantu Ibu bekerja” jelasku penuh pertimbangan. “jadi gini nak, panti asuhan kami masih tergolong baru, kami masih akan menampung banyak anak, jadi kami memberikan dua kesempatan untuk nak Toni dan adiknya” Bapak yang berbaju batik hijau itu menambahkan. “ jika itu kehendak Bapak-Bapak insyaallah saya dan adik saya siap pak, tapi bagaimana dengan Ibu?” kataku. “ kalau Ibu, selama itu menjadi kebaikan yang akan mengantar masa depan kalian, Ibu tak mempermasalahkan, karena Ibu tak bisa banyak membiayai kalian apalagi kalian mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, Ibu hanya bisa mendoaakan kalian” dengan bijak Ibu memberi izin padaku dan pada adikku.
Aku dan adikku kini berada di panti asuhan yang letaknya tak jauh dari sekolahku, jadi semakin mudah untuk pergi kesekolah. Alhamdulillah panti asuhan yang kami tinggali sangat agamis, meski panti asuhan campuran namun antara laki-laki dan perempuan bisa saling menjaga. Waktu magrib pun tiba, aku segera meninggalkan kegiatanku lalu menuju masjid dan ku kumandangkan adzan. Diantara waktu magrib dan isya semua diwajibkan tadarus. Usai sholat isya adalah waktu makan malam. “bruk…” upsss, tak sengaja aku menabrak seorang gadis, hingga sajadah yang dibawanya jatuh. “maaf, aku tergesa-gesa” gadis sebayaku itu mengambil sajadah dan sebelum aku berkata apa-apa ia sudah meninggalkanku, aku pun merasa bingung karena aku yang merasa salah malah ia yang meminta maaf, terlintas wajah cantiknya di pikiranku “masyaallah”.
Setelah kejadian itu aku tak pernah menemui gadis itu lagi, bayang-banyangnya sering melintas di benakku. Waktu di panti asuhan ini sekarang kutambah untuk belajar yang lebih intensif, karena Ujian Nasional semakin dekat, tinggal hitungan hari. “ Mas, aku kok pengen pulang ya, kangen Ibu” tak seperti biasa, adikku yang pendiam berbicara seperti itu padaku, padahal kemarin kami baru saja pulang nengok Ibu sekalian aku minta doa restu Ibu untuk melaksanakan Ujian Nasional dan mengutarakan niat kelanjutan studiku kelak.”lhah kan kemarin habis pulang” jawabku. “Mas Toni, ada tamu itu, ditunggu di ruang tamu”, Anas temanku menanggilku. “iya Nas, makasih, aku akan segera kesana” jawabku dan meninggalkan adikku. Tak seperti bisaa, ada tamu mencariku, ada kepentingan apa ya kira-kira. “ assalamu’alaikum Ton” tamu itu adalah Fauzi, tetanggaku dari kampung. “waalaikum salam Zi, tumben kamu datang kesini, eh mau minum apa ?” jawabku. “ehm, ga usah repot-repot Ton, ini waktunya mendesak, aku Cuma menyampaikan amanat aja, kamu dan Ilyas adikmu diminta cepet-cepet pulang, sekarang!” kata Fauzi tergesa-gesa. “ada apa emangnya Zi?” tanyaku penasaran, “udahlah Ton, ayo cepetan, nanti kamu tau sendiri wis, buruan panggil adikmu” kata Fauzi. Kami bertiga berpamitan pada pihak panti asuhan untuk pulang sebentar. Angkutan desa mengantarku sampai di rumah.
Rumahku ramai, “ada apa lagi ini Zi?” tanyaku pada Fauzi, “gini Ton, tadi pagi, saat Ibumu pulang dari pasar, di kampung sebelah Ibumu tertabrak mobil, lalu…………..” jelas Fauzi pelan, “ lalu Ibu sekarang dimana Zi?” tanyaku tak sabar. “Ibumu, Ibumu sekarang ….”Fauzi berkata semakin pelan dan menundukkan kepala “Ibumu di rumah sakit kabupaten Ton, baru saja mendapat kabar bahwa Ibumu tlah tiada” Lanjut Fauzi, akupun kontan kaget, bagai disambar petir di siang bolong. “Ayo Zi antar aku kesana” Pintaku memaksa, “ngga usah Ton, sebentar lagi jenazah almarhum Ibumu akan dibawa pulang, kamu mengurus pemakamanya saja, yang tabah Ton” Fauzi menenangkanku, di sisi lain Ilyas menangis.
Siang itu para pelayat mengantarkan Ibu ke pemakaman. Gundukan tanah dan wewangian bunga di samping pusara makam Bapak menjadi pertanda kesempurnaan cobaanku. Bukan berarti bagiku ini semua adalah akhir dari semua perjuanganku, aku yakin, Ibu dan Bapak mengiringi perjuanganku di dunia. Setelah ku doakan Ibu dan Bapak di makam, kulangkahkan kakiku menuju rumah. Bayang-bayang akan Bapak dan Ibupun masih ada di benakku. “Mas, lihatlah itu” Ilyas memanggilku, aku beranjak menuju tempat dimana Ilyas berdiri tepat di depan kamar Ibu, sebuah kotak kecil berwarna merah diatas sajadah, itulah yang membuat Ilyas memanggilku. Perlahan aku dan Ilyas mendekatinya, kubuka kotak itu, dan Ilyas menyaksikanya. “cincin Mas, coba lihat ada tulisan di bawahnya” kata Ilyas,
Anakku Fatoni,
Nak, maafkan Ibumu, Ibu tak akan bisa menemani kalian. Ibu membelikan sebuah cincin kelak untuk istrimu, jaga adikmu Ilyas. Semoga Allah senantiasa menyanyangi dan menjaga kalian.
Ibu
Aku tau di sajadah itu Ibu biasa sholat dan berdoa. Tapi aku tak tau maksud Ibu menuliskan itu semua, Ibu sudah membelikanku sebuah cincin untuk calon istriku kelak, padahal sekarang aku baru akan Ujian Nasional dan itu tandanya masih jauh aku akan melangkah di jenjang pernikahan, karena aku masih harus kuliah dan membiayai adikku. Tapi apapun yang terjadi itu semua kehendak Allah dan cincin itu adalah amanat Ibu. Begitulah selintas pikiranku. Malam itu aku tidur dirumah. Waktu mengantarkan hari kepada malam, jam dua malam aku bangun, seperti bisaa aku melaksanakan sholat tahajud. “Ya Allah, Engkaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyanyang, cobaan ini hanyalah kuasaMu, berikan ketabahan hati hambaMu yang dhoif ini, tunjukkanlah jalan kebenaran, jauhkanlah dari semua fitnah dunia akhirat Ya Allah, berikan kemudahan hambaMu untuk melaksanakan Ujian Nasional dan jadikan hasilnya adalah barokah bagiku, bagi adikku dan bagi semua orang sehingga aku dapat mengemban tanggung jawab yang Bapak, Ibu Amanatkan. Berikan ketenangan bagi Bapak dan Ibu di sisiMu Ya Allah. Allahumma la sahla illa ma ja’altahu sahlan, wa anta taj’alul hazna izasyi’ta sahlan, Allahumma ya musarrifal qalbi sarrif qulubana ala ta’atik, wal hamdulillah hirobbil’alamin ”
Hari ini adalah hari tenang, karena esok adalah Ujian Nasional, aku masih di rumah, sementara Ilyas sudah kembali di panti asuhan. Seakan belajarku ditemani Bapak dan Ibu, ah semoga beliau tenang di sana.
Sekarang bukan lagi detik-detik menjelang Ujian Nasional, melainkan waktu Ujian Nasional. Dengan segala kerendahan hati, kupanjatkan Doa kepada Allah SWT, waktunya tawakal. Mata pelajaran demi mata pelajaran tlah ku perangi dengan senapan kemantapan yang tlah ku isi dengan peluru usaha dan doa. Selang beberapa hari dari Ujian Nasional adalah pengumuman tes seleksi PBUD di PTN yang telah ku ikuti. Alhamdulillahirrobil’alamin, namaku tlah membawa kabar bahagia bagiku, sekolah dan pihak panti asuhan. Sayang, Ibu dan Bapak tidak bisa menyaksikan kebahagianku. Aku diterima di jurusan Teknik Arsitektur, meskipun biaya selama lima tahun kuliah gratis, namun fasilitas lain yang digunakan harus membeli sendiri, padahal panti asuhan hanya menjamin biaya sekolah dan hidupku sampai SMA.
Roda waktu yang berputar memberi jawaban atas doa dan usahaku selama ini, Subhanallah, “Ahmad Fatoni” nama yang terpajang di papan pengumuman sekolah, adalah peringkat pertama peserta Ujian Nasional SMA Wijaya Bhakti.
Allah tlah memberi petunjuk padaku, jika aku harus kuliah di PTN yang tlah menerimaku. Aku akin, pasti ada jalan terbaik untuk memenuhi kebutuhan kuliahku, apalagi tahun ini pula Ilyas diterima di SMA internasional yang biayanya tak bisa mengandalkan dari Panti asuhan. Aku memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren, karena tinggal di kos atau kontrakan memerlukan biaya mahal, di samping itu di pesantren aku bisa lebih mendalami ilmu agama dan mengembangkan ketrampilanku yang menghasilkan uang.
Tiga tahun aku kuliah, sebagai mahasiswa aku merangkap menjadi santri di pesantren. Aku menekuni ketrampilan yang pernah dijalani almarhumah Ibu, aku membuat sekaligus menjual tempe, tidak hanya di kalangan pesantren, bahkan di kampus aku terkenal sebagai pembuat dan penjual tempe. Hal ini tidak membuatku malu, karena hasil yang aku dapatkan adalah halal dan benar-benar bisa membantu mencukupi kebutuhanku dan kebutuhan adikku. Namun, banyak waktu yang tersita untuk masalah tempe, meski berat dan harus mengatur jadwal untuk kuliah, praktikum, mengaji dan membuat tempe. Apalagi aku harus ekstra bekerja keras, sebentar lagi adikku juga akan masuk Perguruan Tinggi, aku tau adikku ingin menjadi dokter, dengan segala usaha aku harus bisa memenuhinya karena adikku tergolong pandai, sia-sia jika tak mengembangkan bakat dan menyalurkan ilmunya.
“ Mas Toni, setelah ngaji nahwu ntar di suruh nemui Romo Kyai” Afif mengagetkanku ketika aku membaca kitab di sudut ruangan. “ada apa ya Fif, kok kayaknya penting”tanyaku pada Afif, “Aduh mas, saya juga kurang tau, sowan aja nanti, yang penting saya sudah menyampaikan amanat beliau” tambah Afif. Aku dan Romo Kyai memang tergolong dekat, karena aku sering berbagi dengan beliau, konsultasi masalah kitab, kuliah hingga masalah ekonomi karena latar be;akang keluarga, dan Beliaulah yang mengarahkan dan memberi solusi, Beliau seperi Bapakku sendiri.
Ngaji nahwu adalah ngaji wajib yang diikuti para santri, jadwalnya setelah sholat isya’ sampai jam Sembilan yang langsung diajar Romo Kyai. Selepas jam Sembilan, biasanya Romo Kyai langsung pulang di ndalem yang berhadapan dengan aula dimana semua santri mengaji. “assalamu’alaikum Romo”, aku menemui Romo dan kucucup tangan beliau ketika salaman. “Ayo Ton sini, duduk dulu” Romo Kyai mempersilakanku duduk di karpet hijau. “ Begini Ton, Romo sudah tau banyak tentang kamu, Romo tau kamu sangat sibuk sekali hingga kadang kamu kuwalahan membuat pesanan tempe, padahal kamu harus kuliah, Romo seneng, Romo tidak akan menghalangi usaha kamu membuat tempe di pesantren ini” Romo berbicara panjang,”Lantas apa yang menjadi masalanya Romo?” tanyaku bingung. “begini Ton, Kakakku yang di Rembang punya pondok putri, kemarin Beliau telvon, bahwa salah satu santrinya ada masalah, yang semoga kiranya kamu bisa bantu” tambah Romo, aku benar-benar belum mnengerti maksud Beliau. “ Kamu pasti bingung, santrinya Mas Mujab yang dirembang itu namanya Hanum, dia dari keluarga bermasalah, Bapaknya selalu mengejar-ngejar dia untuk dijadikan pelacur, dia sering berpindah-pindah dari suatu tempat ketempat yang lain, jalan terakhir yang ia pilih adalah ingin segera menikah, namun ia belum punya pilihan, katanya dia anaknya sholeha, cantik, dan rajin. Gimana Ton kalau kamu bisa membantunya?” Kata-kata Romo Kyai membuatku sangat kaget. “kenapa harus saya Romo?” aku bertanya heran. “Karena saya tau banyak tentang kamu Ton, apalagi sekarang kamu butuh orang yang bisa membantu usahamu, jadi mungkin dia menjadi solusi yang tepat buat kamu. Gimana Ton?” Tanya Romo Kyai. “ Jika itu memang kehendak Allah yang akan membuat saya lebih baik, insyaallah bisa jadi Romo, namun berikan saya waktu untuk lebih memantabkannya, mungkin besuk malam saya akan memberi jawabanya” jelasku.
Malam itu aku terbangun untuk sholat istikharah, aku harus menentukan pilihan antara ya dan tidak. Di atas sajadah yang dahulu selalu digunakan Ibu untuk sholat dan berdoa, dengan segenap kepasrahan ku panjatkan doa kepada Allah SWT, aku ingin diberi petunjuk jalan yang terbaik, karena aku hanya pemuda bisaa yang tak punya apa-apa, kecuali kasih sayang Allah.
Malam tlah berganti, setelah ngaji nahwu ku temui Romo Kyai. Dengan banyak kata pengantar, tibalah saatnya aku berbicara pada inti permasalahan. “dengan segera kerendahan hati saya, saya hanya punya satu petunjuk, sebuah cincin yang diamanatkan almarhumah Ibu untuk calon istri saya Romo, jika ini kehendak Allah dan restu dari Ibu dan Bapak yang telah Sowan Allah, maka cincin ini sempurna terpasang di jarinya” aku menyerahkan kotak kecil itu kepada Romo Kyai.
Romo Kyai memanggilku. “ Dia sudah mau nyampe sini Ton, tunggu sebentar ya” kata Romo Kyai, “iya Romo, saya tinggal masuk dulu ya, ini saya bawakan tempe biar saya bawa ke dapur dulu” akupun ke belakang menuju dapur ndalem Romo, tidak lama aku di daput terdengar salam, tamunya sudah datang, sekalian aku baut minuman.
“ itu dia nak yang namanya Fatoni” Romo guru berbicara pada wanita yang tertunduk itu ketika aku keluar membawa minum. Aku pun kaget setengah tidak percaya, wanita itu adalah gadis yang pernah berpapasan hingga sajadahnya jatuh ketika dulu di panti asuhan. Setelah kusajikan minuman untuk keluarga Kyai Mujab dan wanita itu aku duduk di samping Romo Kyai. “Nak, cobalah cincin ini” kata Romo Kyai sambil memberikan kotak kecil itu. Tubuhku bergetar, detak jantungku semakin cepat ketika ia mencoba cincin. “Ibu, lihatlah” gadis itu menunjukkan cincin yang dipakai kepada Nyai Mujab. “ Mas Kyai, cincinya pas dan sangat cocok di jari Hanum” Nyai mujab menyimpulkanya. “Ton, seperti yang kamu katakana kemarin, kesimpulanya dia cocok untukmu menurut cincinya, bagaimana dengan hatimu?” Tanya Romo Kyai. “iya Romo, Allah telah memberi petunjuk kepada saya, tapi seperti yang Romo ketahui, saya hanya pemuda biasa yang tak punya apa-apa, saya tak bisa menjanjikan mahar yang mewah, hanya seperangkat alat sholat dan mushaf serta cincin yang diamanatkan Ibu” jelasku. “gimana Num?” Tanya Kyai Mujab. “ saya tidak menuntut yang aneh-aneh Kyai, suami sholeh yang bisa membimbing dan melindungi keluarga saya itu sudah cukup” jelas gadis yang bernama Siti Latifah Hanum itu. “lalu, kapan rencana untuk akadnya Ton?”Tanya Romo guru. “lebih cepat lebih baik Romo, daripada banyak fitnah dan jauh dari hal-hal yang tak dikehendaki karena saya hanya manusia biasa” jawabku Mantab. “tapi ada yang perlu diketahui, bahwa saya hanya punya rumah di kampung dan ….” Kataku lemah, “Mas Kyai sudah cerita banyak ke saya nak, jangan kuatir, saya punya sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari sini dan tak jauh dari tempat dimana kamu kuliah, kebetulan bulan ini orang yang ngontrak mau pindah, jadi setelah kalian menikah kelak kalian bisa menempatinya” Subhanallah, kata-kata Kyai Mujab membuat aku kaget, kaget karena ada rizki yang begitu mudah di dapatkan.
Seminggu setelah pertemuanku itu aku menikah, karena di dalam islam tiadak ada kata pacaran, sekedar pengenalan yang singkat itu membuat aku yakin bahawa hanum adalah wanita sholihah. Rasa syukurku pada Allah tak henti-hentinya kupanjatkan, betapa Allah menyanyangi dan mencintai hambaNya jika hambaNya sayang dan Cinta kepadaNya, hal yang tak kalah indahnya adalah anugrah cinta sesama makhluk tanpa sesuatu yang melanggar ajaran islam.
Dua tahun setelah aku menikah dengan Hanum aku telah menyelesaikan kuliahku, uang yang tlah aku kumpulkan bisa menjadi modal membeli tanah dan membuat perumahan islami, usaha pembuatan tempe yang dulu ku rintis di Pesantren kini tlah menjadi perusahaan pesat yang di urus istriku hingga mempunyai cabang di beberapa daerah, Ilyas adikku tlah lulus dari SMA Internasional dan masuk kuliah di kedokteran. Itu semua tak lepas dari doa, usaha kami. Dibalik semua kesulitan ada kemudahan yang hikmahnya berlipat. Alhamdulillah di tahun keemasanku ini, istriku tlah dikaruniai seorang anak Muhammad Luqman Hakim Alamsyah, di tahun ini pula aku dan istriku bisa menjalankan ibadah haji bersama-sama.
Sepanjang hidupku ini penuh goresan kata dalam diaryku untuk Allah. Menjadi manusia yang sempurna adalah manusia yang bias mengimbangi hubungan anatara manusia dengan Allah(habbluminallah) dan hubungan sesama manusia(habbluminnanas). Subhanallah wal hamdulillah wal laillaha’illallahu allahuakbar.

Cerpen ini pernah diikutkan dalam Lomba dalam rangka Bulan Bahasa, UAD Jogja
Share this Article on :

1 komentar:

Post a Comment

 

© Copyright GP. ANSOR - FATAYAT NU KEC. PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.