News Update :

Tugas Melawan Agama

Pemikiran humanisme berkembang menjadi dominan di dunia. PBB dengan deklarasi umum hak asasi manusia sebenarnya mengacu pada pemikiran dasar ini. Harap dimaklumi humanisme lahir pada masa renaissance dalam rangka menolak agama, baik Kristen maupun Yahudi. Pada dasarnya mereka tidak percaya pada Tuhan karena itu mencari sumber pengetahuan dari manusia sendiri, karena itu mereka tidak mau merujuk pada wahyu, tetapi menggantinya dengan filsafat Yunani dan Romawi.

Filsafat zaman renaissance ini kemudian memuncak pada masa zaman aufklarung (pencerahan) dengan ditemukan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi baru, yang semuanya berdasarkan pengetahuan empiris, yang berprinsip bahwa hakikat dunia bersifat meteri, fisik, sehingga tidak mengakui metafisika. Ilmu pengetahuan positifis semakin meluas sehingga semakin keras pula penolakan terhadap agama. Kalau kaum komunis menganggap agama sebagai candu bagi gerakan emansipasi rakyat, sebaliknya kaum liberal kapitalis melihat agama sebagai penghambat perluasan modal, dan penghambat eksploitasi, karena itu keduanya melawan agama.

Kaum intelektual yang berada di perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta aktivis sosial yang ada di lembaga swadaya masyarakat (LSM), para seniman di berbagai lembaga seni budaya memiliki landasan pemikiran humanistik, positifistik semacam itu. Dengan demikian agama tidak saja dianggap tidak berguna, melainkan berbahaya menghambat kemajuan gerakan mereka, karena itu agama harus ditentang. Ini cara pandang kam humanis, karena itu hingga saat ini kaum humanis di beberapa negara barat sangat agresif, misalnya Asosiasi Humanis Amerika, Asosiasi Humanis Inggris dam Asosiasi Huamanis Australia, gigih menyelenggarakan kampanye anti agama, dengan memasang baliho, spanduk mobil, jaringan internet dan lain sebagainya.

Penentangan terhadap agama, termasuk penghinaan dan penodaan terhadap agama yang dilakukan secara sistematik di Barat, baik pembuatan komik dan kartun Nabi Muhammad SAW yang terus menerus, yang dianggap mereka sebagai kebebasan berekspresi. Berbagai film juga dibuat untuk menyudutkan Nabi Muhammad junjungan Umat Islam, tetapi anehnya mereka membela kelompok sekte yang menyimpang dengan agama utama atas nama kebebasan beragama semata untuk mendorong munculnya sekte baru yang menyimpang dari agama resmi. Anehnya sekte ini mereka dukung habis-habisan atas nama hak beragama. Hal itu mereka anggap penting untuk merongrong pengaruh agama, toh sekte yang lahir akan segera mati dimakan zaman.

Cara berpikir kaum humanis itu yang ditangkap oleh intelektual, aktivis LSM dan seniman kita melalui program yang bersifat umum dan samar seperti demokrasi, pluralisme, kesteraan gender yang di dalamnya berkobar spirit humanisme. Karena itu lambat laun kelopok ini juga bersuara seperti kaum Humanis di Eropa, hanya saja mereka tidak tahu bahwa gerakan mereka sebenarnya bukan perjuangan kebebasan manusia, tetapi gerakan melawan agama.

Lalu masih ada tema lagi yang dilawan oleh kaum intelektual dan aktivis LSM serta seniman, yaitu keterlibatan agama dalam urusan negara. Ini merupakan bagian dari agenda humanisme universal dalam menyingkirkan peran agama agar agma dapat mereka kendalikan tanpa moral dan komitmen sosial. Anehnya kalangan aktivis NU sendiori berusaha mengeliminir peran agama dalam proses kenegaraan, ini artinya kelompok NU turut menyingkirkan peran NU dalam proses kenegaraan, padahal ini merupakan tugas suci kelahiran NU,. Karena penyingkiran peran publik ini tidak hanya sebatas negara tetapi mencakup pera sosial, ini merupakan upaya sistematik mengerdilkan NU. Tetapi ini didukung oleh kalangan aktivis NU sendiri dengan dalih depolitisasi NU.

Jati diri NU perlu diketengahkan kembali, sehingga kader NU mengerti tentang garis perjuangan NU, hubungan NU dengan Negara dan peran NU dalam pembinaan karakter bangsa. Karena banyak kalangan muda NU yang tidak memahami watak dasar atau fitrah NU ini maka mereka menjadi berpikir liberal, bahwa agama harus dipisah dengan Negara, sehingga kaum beragama tidak boleh ngurusi negara, demikian juga Negara tidak boleh mengurusi agama, karena dianggap intervensi. Meeka lupa bahwa Negara didirikan juga oleh kelompok beragama termasuk NU. NU dengan tegas menyerahkan sebagian kedaulatannya pada negara. Di sisi lain juga mendapatkan kedaulatan untuk ikut mengatur negara. Ini terus dipegagi bagi kader NU yang memahmi fitrah Nahdliyah. NU Tidak bias melepaskan tanggung jkawab kenegaraan karena ini sumpah setia. Demikian juga negara tidak bisa melepaskan tanggung jawab terhadap kaum beragam termasuk NU karena itu mandat yang harus diemban oleh pemerintah dalam mewakli Negara.

Dengan dasar pemikiran seperti itu negara selalu berkonsultasi dengan agama yang ada dalam menjalankan kebijakan umum, termasuk dalam bidang keagamaan. Negara wajib melindungi agama yang ada, termasuk dari penodaan, baik dari caci maki maupun pembuatan gerakan sempalan. Sebab kalau ini dibiarkan akan memancing pertikaian intern agama sendiri. (Abdul Mun’im DZ) sumber berita : www.nu.or.id
Share this Article on :

2 komentar:

Anonymous said...

Problem hubungan agama dengan ilmu


Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak - gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia,artinya bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Tuhan dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang konsep ‘realitas’ versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik ( kemudian pengertian kata ‘ilmu’ diparalelkan dengan sains seolah ‘ilmu’ = ‘sains’).
Ini adalah konsep yang bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ‘ilmu’ tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti langsung secara empirik oleh mata telanjang,sebab dibalik realitas konkrit ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya pasti berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat konkrit tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.

Anonymous said...

Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya adalah dua aspek yang saling mengisi satu sama lain yang mustahil berbenturan,sebab ada saling ketergantungan yang mutlak antara keduanya.benturan itu terjadi lebih karena faktor kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu.
Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.
Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tidak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.

Post a Comment

 

© Copyright GP. ANSOR - FATAYAT NU KEC. PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.