News Update :

“Bara Perjuangan si Bungsu”

Malam itu, pertengahan bulan ramdhan. Ramai pengunjung pasar malam lapangan jantung kota kabupaten Muara Enim nian terasa. Suara azan isya hampir tak terdengar nyaris kalah dengan suara keras lagu-lagu yang diputar di arena permainan, tak sedikit pula orang yang meninggalkan sholat tarawih untuk datang ke pasar malem. “ hai boy, tumben kau ada disini. Tak takut kau jika ketahuan bapakmu?” Tanya seorang anak laki-laki kurang lebih berusia 15tahun kepada salah seorang lelaki seusianya yang ikut bermain bersamanya, “ alah,,, tenang saja…..aku punya banyak petasan ini” kata si anak laki-laki yang tak biasanya ikut bermain di malam hari bersama kawan-kawanya itu. “ Pendi, kita bawa petasan itu di ujung jalan saja, di sana banyak banci, pasti mereka akan ketakutan ,hahaha“ kata salah seorang kawanya, “ okelah,, ayo buruan” kata anak laki-laki yang bernama Fendi itu. “ satu…dua…tiga…..lari ……“ kata mereka hampir bersamaan sambil melemparkan petasan kepada banci-banci yang duduk di tepi trotoar jalan pinggir lapangan itu, sebuah motor tua melaju dari arah berlawanan, anak laki-laki yang bernama Fendi itu kenal betul dengan suara itu, tak lain adalah suara motor bapaknya, seorang dai yang akan berceramah ke kampung sebelah. Berhentilah motor itu hampir saja menabrak Fendi. Fendi hanya terdiam tertunduk, ia merasa bersalah.

Jarum jam di rumah itu hampir menunjuk angka Sembilan, orang seisi rumah itu hampir semua berkumpul kecuali sang bapak yang mungkin sebentar lagi akan pulang. “ kenapa nak, ada masalah kau?” Tanya si emak kepada anak laki-laki itu. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya, suara yang takn asing itu kembali ia dengarnya, kini mulai mendekati pintu garasinya. Tak lama kemudian, langkah kaki yang penuh dengan kehormatan itu mendekat “assalamu’alaikum” ucap bapak setengah baya itu. “waalaikum salam” dua orang lainya menjawab. “mak, tolong siapkan pakaian dan perlengkapan anak bungsumu ini, taruh koper dan segera bawa kesini” perintah bapak berpeci itu, “ untuk apa pak?” Tanya si Emak, “sudahlah mak laksanakan” kata bapak si Fendi. Emaknya segera melaksanakan perintah, “ mak, anak kita ini, benar-benar memalukan” Kata sang bapak dengan sedikit nada tinggi, “kenapa pak, ada apa ini?” si Emak panic, “ waktunya sholat tarawih malah main petasan. Malam ini juga bapak akan mengantar dia ke Jogja, biar dia belajar di pesantren, tak kurangnya bapak dan emaknya mengajari soal agama, masih saja tak dipakai telinganya” Semakin tinggi saja nada bicara sang Bapak.

Sayup rembulan yang menenggelamkan malam semakin terasa suram bagi Fendi, ia tau, sekali bapaknya marah sudah tak ada lagi yang berani lagi menanggapi kata-katanya, ntah apa yang harus ia perbuat, ia tau bahwa nasibnya akan seperti abangnya yang dibuang di salah satu pesantren untuk belajar mengaji dan sekolah dan harus kembali lagi ke tanah kelahiranya ketika ia sudah mendapat gelar sarjana dan harus mampu berdakwah.



Dua kali matahari timur menyapanya dalam jauh pandangan matanya, waktu tempuh Palembang-Jogja semakin membuatnya penat, ntah apa yang akan menjadi masa depannya di kota yang jauh dari kedua orang tuanya. Sebuah taxi yang mereka sewa dari terminal mengantarkannya si sebuah pesantren, “assalamu’alaikum “ ucap bapaknya sambil mengetuk pintu di sebuah rumah di kompleks pesantren, rumah pengurus pesantren yang tak lain adalah sahabatnya waktu kuliah. “ waalaikum salam bapak, monggo silakan masuk, duduk dulu” kata seorang perempuan berjilbab, “ badhe pinanggih bapak?” tanyanya, “iya, dari kawan lamanya” kata bapaknya sambil tersenyum. “ weee, Toha……assalamu’alaikum” bapak bersarung tu keluar dari pintu dengan rona gembiranya, Beliau ingat betul dengan tamunya, lalu mereka berjabat tangan dan rangkulan seperti para ulama jika bertemu. “ tidak terduga, kerawuhan tamu istimewa jauh-jauh dari Palembang ” Bapak itu memulai perbincanganya, “ begini kyai, aku mau nitipkan si bungsu ini, kuwalahan aku mengurusinya, pokonya aku pasrahkan dia kepadamu sampai dia benar-benar bisa menjadi ahli dakwah” kata pak Toha, bapak si Fendi kepada kawan lamanya, pak Ali. Pak Toha tak berlama-lama di Jogja mengantar Fendi, setelah ia cukup beristirahat ia langsung kembali ke Palembang .

Di kompleks pesantren Abu Bakar kini Fendi tinggal. “orang tua macam apa orang tuaku, segitunya hingga aku di buang di tanah ini” Fendi masih menyompan rasa marahnya kepada orang tuanya. “ sahabat, ini jadwal kegiatan di pondok ini, semoga kamu betah” seorang anak laki-laki memberikan sebuah kertas yang berisi tentang jadwal kegiatan itu. “ apa ini, bangun jam empat, ngaji berkali-kali” katanya lirih. Memang sulit masa adaptasi Fendi, ia juga harus sekolah di komplek pondok itu, jika ia keluar dari komplek pondok maka harus izin kepada pengurus pondok.

Suara adzan magrib nian terdengar, bel tanda buka puasa menjadi penolong dahaga dan lapar. Tak seperti di rumahnya, jika biasanya ia bisa makan nambah berkali-kali kini ia makan alakadarnya. Tak berlama-lama setelah menikmati buka puasa harus melaksanakan sholat magrib. “ heih boy, anak baru ya?dari Palembang ya?” seorang anak diantara tiga anak yang sedang bersembunyi merokok di dekat kamar mandi itu memanggilnya. “ iya, anak Palembang juga kau” Tanya Fendi berani, “ya begitulah, kemari kau” katanya, “ namaku Hendra, ini Baim dan yang itu Mail” kata anak laki-laki itu. “ Hendra, maukah kau antar aku beli buku, sebentar lagi aku ujian, dan satu bukupun aku bawa” kata Fendi, ia tau segerombolan anak itu adalah gerombolan anak nakal di pondok, pasti mereka mau menemaninya membolos ngaji untuk diajak jalan-jalan. “oke,,, siap,, nanti akan kami antar kamu muter-muter keliling jogja semaumu. Kebetulan kami juga kelas 3, jadi bolehlah kami belajar bersama kamu” kata Hendra sambil tertawa. Selepas adzan isya mereka melarikan diri dengan sembunyi-sembunyi.

Tak jarang Fendi terkena denda karena melanggar aturan pondok, mulai bangun kesiangan dan tidak mengikuti kajian kitab tafsir maroghi bakdal subuh, absen ngaji diniyah, hingga pergi tanpa pamit dan ketahuan pengurus pesantren, Fendi memang sering melarikan diri karena ia merasa tak betah tinggal di pesantren. Ia memang terkenal santri baru yang bandel.

Sore itu tak seperti biasanya, kegiyatan ngaji kitab diisi dengan doa bersama untuk kelancaran dan kesuksesan UAN yang akan dihadapinya setengah bulan lagi, semua santriwan-santriwati kelas 3 SMP dan SMA komplek putra Abu Bakar dan komplek putri Dewi Masyitoh berkumpul di aula utama, sebagian dari mereka menganggap hari itu special, karena tak sedikit dari mereka yang sembunyi-sembunyi pacaran dengan santriwati dari komplek putri termasuk Hendra dan Mail . “Aduhay,,,,boy,, siapa dia,,,cantik bener, santri sini juga kah?” kata Fendi yang belum melepaskan pandanganya kepada gadis berjilbab putih yang akan memasuki aula. “ heh, dia itu anak kyai terkenal di Jawa Timur, dia itu Bunganya di pesantren ini” kata Baim, “ bolehlah buat aku, siapa nama dia?” Fendi terus mengejar pembicaraanya dengan Baim “ namanya Najwa, banyak boy yang menginginkanya, tapi sulit sekali dia jatuh hati, apa mau dia dengan orang sepertimu?” ejek Baim, “jangan salah” Fendi menyombongkan diri, “ dia maunya sama dokter yang pinter ngaji, apa kamu bisa jadi dokter?” tambah Mail, “ apaun buat dia akan aku lakukan” kata Fendi Optimis

Hari-hari selanjutnya menjadi sangat indah untuk Fendi, tak jarang ia mencuri-curi waktu ke komplek pondok putri untuk melihat Najwa, ia pun semakin giat belajar, karena ia ingin satu sekolah bersama Najwa.

Hari yang ditunggu-tunggu pelajar SMP se-Indonesiapun tiba, yaitu hari pengumuman kelulusan. “ Alhamdulillahirobbil’alamin, dengan rahmat Allah peserta Ujian Nasional dari Tsanawiah Al-Mahali dari kelas Abu Bakar dan Dewi Masyitoh lulus 100%” sambut pak Halim selaku kepala sekolah. Lembar hasil Ujian pun dibagikan, dirangking semuanya. “ Najwa Azzalia Putri” menempati peringkat pertama. “ waduh boy, gimana kau mau satu sekolah sama si Putri cantik, peringkat kau saja nomor 3 dari belakang, aturanya kamu harus sekolah di MA Al-Mahali” kata Hendra, “ Lantas dimana putri cantik akan sekolah kalau tak di MA Al-Mahali juga?” Tanya Fendi. “ Jelas dia diberi kesempatan untuk sekolah di SMA Negeri favorit pilihanya, paling-paling di SMA 3” kata Baim. “ waduh,,,,,,bagaimana ini” kata Fendi sambil memegang keningnya.

Penyesalan tak akan datang di awal. Perbedaan sekolah dengan Najwa yang diidamkan itulah yang membuat Fendi menyesal. Ia selalu menyepelekan pelajaran, mengajipun sering ia membolos untuk melakukan hal-hal yang tak penting. Dari situlah kini Fendi terbuka hatinya untuk memperbaiki diri.

Waktu tiga tahun di bangku sekolah atas adalah waktu yang tepat untuk mengejar cita dan cintanya. Fendi kecil dulu ingin sekali menjadi seorang dokter, tetapi cita-cita itu sempaat kandas karena kenakalanya, kini bunga-bunga impianya itu kembali bersemi dengan cintanya. Tak tanggung-tanggung, ia minta uang kiriman orang tuanya untuk mengikuti bombingan belajar di luar pesantern, ia berjanji bahwa ia tak akan kembali lagi ke tanah kelahiranya jika ia belum menjadi dokter dan akan membawa istri sholeha. “ Najwa Azzalia Putri yang menjadi motivasinya”, ia tak mau klah dengan dengan kepandaian putri cantik itu, ia menyadari bahwa dirinya hanya seorang laki-laki dengan kemampuan pas-pasan, tapi kemauan akan merubah kemampuan menjadi sebuah impian.

Predikat santri bandel kini berubah menjadi santri intelek, kemanapun ia pergi ia selalu membawa buku untuk di pelajarinya, ngajipun tak mau kalah, ia malu jika ia menjadi menantu pak kyai jika membaca kitab gundul pun tak bisa.

Musim semi itu kini menjadi musim subur, dimana bunga yang dahulunya bersemi kini menjadi bakal buah yang jika matang bakalan enak dinikmati. Ahmad Effendi, nama itu berkali-kali mengukirkan tinta emas prestasi mewakili MA Al-Mahali, bahkan berkali-kali ia lomba sainganya adalah Najwa. Perang menghadapi tentara soal Ujian Nasionalpun dihadapi, bendera kemerdekaan tlah berada ditangan Fendi.

Ujian Masuk UGM ia ikuti, tak tanggung-tanggung, ia berani bersaing dengan Najwa mengambil pilihan pertama di Kedokteran Umum, perang kedua yang mereka ikuti adalah buah yang telah ditanamkan dari kesungguhan belajar dan doanya. Dengan mudah mereka menduduki kursi di Pendidikan Kedokteran itu.

Mahasiswa sekaligus santri, status itu disandang oleh Fendi dan Najwa. Bukan hal yang memalukan lagi untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada Najwa atas perjuanganya. “ Dengan senang hati, jalani semuanya karena Allah, semoga kita senantiasa dipersatukan” sepatah kata yang terucap atas ungkapan perasaan Fendi yang telah lama ia pendam karena kekuranganya.

Santri nakal asal Palembang itu kini tlah menjadi santri senior yang disegani santri-santri lain di pesantren, calon dokter itu banyak member inspirasi bagi santri lain. Grha Sabha Pramana dan toga kemenangan itu mengantarkan Najwa dan Fendi menjadi seorang dokter. Bapak dan Emaknya jauh-jauh datang dari Palembang untuk menyaksikan wisuda si sulungnya yang bandel.

“pak, Mak, inilah Putri cantik yang sering bungsu ceritakan di surat . Antarkan Bungsu ke pesantren Nurul Huda Nganjuk untuk meminang putri cantik ini” dengan penuh keberanian Fendi mengungkapkan kemauanya di hadapan orang tua dan orang yang dicintainya di acara syukuran wisudanya.

Dokter muda dan Santri teladan yang dulunya terkenal santri bandel itu kini menjadi mantu pak Kyai, putri cantik yang ia idamkan itu kini menjadi istrinya. “ Sesuai persyaratan, jika kamu menjadi menantuku, kamu harus tinggal disini untuk membantu mengurusi pesantren kita ini dan bersama istrimu mengurus Klinik punya yayasan kita” Kata Kyai Zainudin kepada sang menantu di hadapan keluarga besarnya setelah akad nikah Fendi dan Najwa. “izinkan mereka menengok tanah kelahiran si bungsu pak Kyai, biar Najwa juga tau asalnya si Bungsu” Pinta Emak Fendi, “ dengan senang hati, kami sekeluarga akan mengantarkanya” ucap Kyai Zainudin sambil tersenyum.

Ketidakmungkinan dan kegagalan tak akan pernah menjadi abu jika bara api kesungguhan, kemauan dan keberanian terus menyala. Lakukan semua semata-mata karena Allah SWT. Indah bunga cita dan cinta akan dapat dinikmati selagi musim untuk berubah itu kita jalani sebaik mungkin.


Oleh : N.L. Maharani Hidakuswanto
Share this Article on :

0 komentar:

Post a Comment

 

© Copyright GP. ANSOR - FATAYAT NU KEC. PIYUNGAN 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.