“Alhamdulillahhirobil’alamin”, Seorang laki-laki tengah baya itu Nampak kelelahan ketika menyusuri sulitnya medan dimana ia mendatangi lokasi KKN mahasiswa bimbinganya. Ia tak langsung masuk di ruang tamu pak dukuh tempat pondokan mahasiswanya, suasana siang di perkampungan pelosok itulah yang akhirnya memutuskan ia untuk duduk di atas kursi rotan di teras rumah yang sederhana itu. Sepoi angin nian menyentuh ramah kulit, lelaki itu begitu menikmati suasana di kampung itu. Beberapa anak kecil berlarian membawa mainan yang terbuat dari debog. Tersenyumlah lelaki itu dengan berjuta kekaguman di benaknya yang mengingatkan akan masa kecilnya.
Tigapuluhtahun tahun yang lalu. Malam penuh kesunyian di kampung Heri, sesekali bintang memancarkan cahaya kekagumanya pada anak laki-laki yang sedang beranjak dewasa itu, yang tak lain adalah anak seorang guru SD, pak Zaidan. “ Her, nanti habis isya ikut bapak ke kampung sebelah, ada tahlilan “ Kata pak Zaidan usai tadarus lepas sholat magrib, pak Zaidan dikenal sebagai pak kyai oleh masyarakat sekitar, meskipun Beliau tidak mempunyai pondok pesantren namun beliaulah yang mensyiarkan islam kepada masyarakat dimana Beliau tinggal. “insyaallah pak, Heri akan selesaikan PR dulu”, kata anak berusia tujuh tahun itu.
“assalamu’alaikum, kami berangkat dulu bu” Heri dan ayahnya hampir bersamaan mengucapnya. Dengan sepeda Heri dan ayahnya berangkat menuju lokasi tahlilan. Tahlilan memang sudah menjadi tradisi masyarakat dimana Heri tinggal. Cahaya senthir sesekali mengintintip keluar, menembus renggangya anyaman gedheg beberapa rumah yang mereka lewati malam itu . “assalamu’alaikum kang, mari-mari, saya duluan” Sapa pak Zaidan kepada bapak-bapak bersarung dan berpeci yang menuju lokasi tahlilan. Tak lebih dari empat puluh orang tlah berkumpul, acara tahlilan dimulai, pak Zaidanlah yang memimpinya.
“terima kasih pak kyai”, ucap tuan rumah sambil memberikan sebesek berkat berisi bermacam-macam makanan. “assalamu’alaikum” pak Zaidan dan Heri mengucapkan salam perpisahan. Dipangkulah besek itu oleh Heri “ Alhamdulillah, esok hari bisa makan telur “ katanya dalam hati. “ Pak, bolehkah Heri menyampaikan sesuatu yang tlah menjadi keinginan Heri?” Tanya Heri kepada sang ayah yang mengayuh sepeda. “silakan nak” jawab pak Zaidan singkat. “ Heri kepingin mondok pak, ingin sekali belajar agama ke Termas, jika bapak keberatan mungkin di Krapyak saja cukup” ungkap Heri dengan penuh harapan. Pak Zaidan terdiam. “Pak” Ucap Heri kembali. “inalillahi”, sepeda yang ia naiki melewati jalan yang berluang cukup dalam, besek yang dipangku Heri hampir semua jatuh isinya, tersisalah nasi, satu telur dan dua apem. “ini semua karena permintaanku barusan kepada bapak, massyaallah” katanya dalam hati. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Heri karena ia merasa bersalah, begitu pula pak Zaidan.
Seperti biasanya, ketika waktu shubuh dating keluarga sederhana itu telah menyambutnya dengan air wudhu dan jamaah sholat shubuh serta tadarus al-quran. “Her, maafkan bapak atas kejadian semalam. Bapak tak menyangka kamu punya keinginan yang sangat mulia, bapak juga ingin sekali anak-anak bapak belajar mendalami agama di pesantren, namun, bapakmu ini hanyalah seorang guru honor SD, alhamdulilah bapak sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan kamu dan adik-adikmu, jika kamu mau mondok apa harus mengorbankan sekolah adik-adik kamu lantaran uangnya untuk kebutuhanmu” kata pak Zaidan dengan nada melemah. “apapun yang menjadi keptusan ibu dan bapak itulah yang terbaik untuk Heri” kata Heri tegas. “ sebentar lagi kamu mau masuk SMP nak, bapak akan mendaftarkan kamu ke SMP Muhammadiyah di dekat kecamatan itu, bapak tak akan membiarkan kamu lepas dari pendidikan agama” kata pak Zaidan. Memang tak ada pilihan selain sekolah di SMP negeri dan SMP Muhammadiyah.
SMP Muhammadiyah. Yah, disitulah sekarang Heri belajar banyak agama dan sebagian ajaran yang mulai ia ketahui perbedaanya. “ kabiron” dalam doa iftitahnya ketika sholat kini dipelajrinya dengan versi “allahummabangid”, disitulah pemikiran Heri mulai dihadapkan dengan perbedaan-perbedaan dalam beribadah. Bukanlah suatu yang ia takuti, justru itulah yang menjadi sarapan Heri untuk dikajinya. Tak tanggung-tanggung, berbagai kegiyatan di sekolahnya ia ikuti, hingga ia terpilih menjadi ketua OSIS, di bidang akademik pun Heri selalu nomor satu disekolahnya, hingga hampir tiga tahun ia sekolah ia mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. berbagai ekstrakulikuler juga tak kalah, “ Her, minggu depan ikut bapak ya, kamu Qiroah di Kandepag Bantul, tunjukkan bahwa SMP Muhammadiyah ini memiliki bintang seperti kamu” ajak pak Badri guru agama Heri. “insyaallah, pak” Heri menjawab dengan sepenuh hati.
Dirumahnya kini Heri meluangkan waktunya untuk ikut mengajar ngaji di madrasah yang didirikan ayahnya, anak-anak seusia Heri juga banyak yang membantunya, dengan kekompakanya Heri dan teman-temanya ikut ngaji kitab di Krapayak tiap minggu sore. “ eh, Ali ya,assalamu’alaikum”, “Heri, waalaikum salam Her, Barokalloh” kedua anak muda itu berangkulan dan duduk di undak-undakan depan serambi. “ kamu nyantri di sini ya Li?” Tanya Heri,”Alhamdulillah Her, kamu santri baru disini kah?” Tanya Ali balik, “ngalong saja Li, ini aku bersama sahabat-sahabat dari kampung, biasa ikut kajian kitab rutin Minggu sore” Heri dan Ali berbincang panjang lebar, mereka saling kenal ketika lomba MTQ.
Kamis pagi Heri bersama pak Badri menuju kantor depag Bantul. Merdu suara ayat-ayat suci al-quran yang dibacakan Heri membuat hadirin takjub akan keindahan suaranya. “shodakallahuladzim”, Heri membawa kita suci di dadanya, ia berjalan tertunduk penuh hormat kepada seluruh hadirin, “ nak Heri, sini bapak mau bicara”, seorang lelaki berbaju batik itu memanggil Heri . “ nak Heri itu kan yang juara MTQ di provinsi kemaren kan?” Tanya bapak itu, “iya pak, maaf bapak ini . . .” “ bapak adalah kepala sekolah SMA Muhammadiyah 4 Jogja”, bapak berbaju batik itu segera memotong pembicaraan Heri sambil tersenyum. “ nak Heri sekarang kelas berapa?” lanjut bapak itu, “ kelas 3 pak, sebentar lagi sudah mau ujian, mohon doanya pak” jawab Heri. “ nak Heri, bapak menawarkan beasiswa untukmu jika kamu mau sekolah di SMA Mupat” sungguh kata-kata bapak itu membuat Heri tercengang, “dengan senang hati pak, tetapi akan Heri konsultasikan dulu dengan bapak dan ibu” Heri menanggipinya dengan tegas dan penuh kegembiraan.
Tigabulan kemudian, SMA Muhammadiyah 4 Jogja. Detik, menit, jam hingga waktu berganti tanpa Arloji di tangan Heri ia lalui dengan penuh semangat. Anak kampung terpencil di Bantul itu kini berstatus menjadi pelajar SMA Mupat, dengan sepeda yang dikayuhnya melewati puluhan kilometer jalan tak pernah menjadi penghalang cita-citanya. “ e,,,,, anak kampung sudah nyampai sekolah “ kata-kata itu sering terdengar di telinga Heri, karena memang mayoritas siswa di sekolahnya adalah anak-anak kota dan anak-anak orang menengah ke atas ekonominya. “Alhamdulillah, Allah masih memberikanku keselamatan sampai di sekolah” jawabnya singkat.
Hampir tiga tahun, predikat Heri yang dikenal sebagai anak kampung kini sudah tidak berbalik menjadi siswa teladan. “Her, kamu temanku kan, ayolah bantu aku mengerjakan tugas bahasa inggris” pinta Agung, anak orang kaya yang sering mengejek Heri sebagai anak kampung. “Bolehlah, tapi ada syaratnya” Heri mulai mengeluarkan tak-tiknya, “berapapun maumu, akan ku bayar “ Agung mendahuluinya, “bukan bayaran, tapi nanti kamu ikut aku jamaah sholat dhuhur, setelah sholat baru aku bantu selesaikan tugasmu” kata Heri sambil tersenyum. Agung menuruti permintaan Heri, siang itu Agung sholat berjamaah dengan Heri, dan Heri menjadi imamnya. “ayolah her, cepat” kata Agung ketika mereka sholat. “”eitsss, wiridan dulu?” saut Heri, “apa itu?” Tanya Agung, Heri tlah memulai wiridan, Agungpun dengan seksama memperhatikanya.
Sang mentari yang lelah mengantarkan aktivitas anak adam mulai berjalan pulang, hari itu adalah hari Sabtu, seperti biasanya Heri meluangkan waktunya untuk menginap di pesantren dimana ia sering mengikuti pengajian. Dikayuhnya sepeda menuju pesantren, ia ingin segera bertemu dengan Ali sahabatnya yang mondok di pesantren itu, “cepet…cepet…cepet….ada orang” suara itu terdengar dari kebun di seberang jalan yang di lewati Heri, ditengoklah kea rah suara itu, tiga orang bercadar sarung Nampak membawa lari pisang dari kebun itu. “masyaallah” ucap Heri lirih, tidak banyak yang diperbuat Heri, lalu ia melanjutkan kayuhan sepedanya.
Perlahan, senja menyambut indahnya lantunan adzan magrib,suasana pesantren mulai terasa. Kaum muda bersarung menuju masjid pesantren untuk melaksanakan sholat berjamaah dilanjutkanya wiridan bakdal sholat. Tak seperti hari-hari biasanya jika setelah magrib mereka harus menyimakkan alquran kepada kyainya, malam minggu jadwalnya adalah berzanjen. Dengan penuh semangat mereka melantunkan syair atas Nabi agung Muhammad.
“Her, nyari angin yuk, makan di angkringan saja” Ajak Ali. Lalu mereka berjalan menuju angkringan yang tak jauh dari pesantren, “suasana seperti tadi Li yang ngangeni” kata Heri, “makanya kamu disini saja” tambah Ali. “yah, kamu kan tau gimana keadaan orangtuaku, aku tak ingin membuat susah. Aku berencana, besok jika aku diberi kesempatan kuliah daripada aku ngekos aku akan di pesantren ini saja Li” Heri berbagi dengan Ali, “ ide bagus itu Her, memangnya kamu mau kuliah dimana?” Tanya Ali, “insyaallah di IAIN Kalijaga Li, biar padu pendidikan dan agamanya” kata Heri, pandangan Heri tertuju pada segerombolan anak muda yang hampir sampai di angkringan, namun mereka berbalik arah. “massyaallah, sarung itu seperti yang digunakan segerombolan orang yang tadi mengambil pisang, semoga saja bukan mereka, naudzubillah” kata Heri dalam hati, “Her, her..” Ali menepuk pundak Heri yang sedang terdiam kosong.
Di pesantren, tak jarang terjadi kehilangan barang-barang pribadi. Heri sering prihatin jika mendengar cerita dari Ali dan beberapa anak pesantren, bukan tidak ada hukuman jika ketahuan mencuri, namun pendidikan akhlaq di pesantren itu dirasa kurang bagi Heri. “Yaa Allah, jika suatu saat Kau beri kesempatan aku untuk mendidik anak-anak di pesantren yang aku dirikan, maka berikanlah kemampuan untuk mendidik santri-santriku baik di bidang agama, pendidikan dan akhlaq “ doanya sesaat dalam hati.
Masa-masa SMA tlah begitu cepat dirasa Heri karena berbagai macam prestasi dan kesibukanya yang selalu membuat hatinya gembira dan ikhlas. Bangku kuliah tlah di depan mata. “inilah waktu yang tepat untuk memulai mewujudkan mimpiku” hati Heri kembali tergugah. Seperti yang ia rencanakan, ia akan di pesantren, Heri berjanji kepada kedua orangtuanya bahwa ia hanya membutuhkan uang untuk biaya kuliah saja, kebutuhan lain termasuk untuk biaya hidup di pondok akan ia cukupi dengan hasil jerih payahnya. Di Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Inggris yang dipilihnya. Heri yang suka berorganisasi kini mulai aktif di PMII, ia lebih sering banyak berguru dengan kakak seniornya jebolan pondok pesantren ternama, dari situlah ia banyak tau tentang managemen dan pengelolaan pesantren. Tak tanggung-tanggung, meskipun aktivis sekaligus santri IP Heri selalu diatas 3.5 makanya ia dekat dengan banyak dosenya, dan masalah lobby dia ahlinya.
Tidak perlu waktu yang lama untuk meraih gelar sarjananya, untuk melanjutkan S2 dan S3 Heri juga mendapatkan beasiswa dari IAIN, karena ia termasuk dalam program beasiswa pembibitan Dosen. “aku akan membuktikan bahwa kaum bersarung, berpeci dan bersandal jepit bukanlah ahli wirid saja atau bahkan sebagian orang mengganggap ahli bid’ah, tetapi kaumku adalah kaum intelek yang bisa mewujudkan generasi islami, mandiri dan berakhlaq, tak cukup bagiku ilmu yang begitu tinggi jika tidak aku tularkan kepada orang lain” fikirnya. Dari situlah Heri berkeinginan untuk segera membuat pondok pesantren.
Sambil menjalani kuliah S2nya kini Heri bersama kawan dekatnya Ali dan Yudian mendirikan pondok pesantren yang diberi nama “ASWAJA LINTANG SONGO” Aswaja berasal dari kata Ahlusunnah wal jama’ah yang artinya golongan orang-orang yang ibadahnya berdasarkan kepada Alquran dan Hadist, sementara pengambilan hukumnya mengikuti mayoritas ahli fiqih, Lintang Songo berarti Sembilan wali yang menyebarkan syiar islam khususnya di tanah jawa, dari situlah ia akan memndidik santrinya belajar agama, ilmu pengetahuan serta akhlaq, ia tak ingin bahwa santrinya hanya rajin ngaji tetapi akhlaqnya dan pengetahuanya nol. Santri yang ia terima hanyalah santri yang kulian di PTN dan memiliki IP di atas 3.
Puluhan kilo meter jalan yang panjang, sepanjang waktu yang tak pernah menjadi penghalangnya tlah menjawab kesungguhan dan keiklhasan seorang Heri, tak ada doa yang tak dikabulkan melainkan tanpa usaha, kejujuran dan keberanian.
cerpen ini ditulis oleh Putri Maharani Putrinya Pak Heri
maav teman-teman...isie ACAK-ACAKAN,,,,,,FOKUS UJIAANNNNNNNN
Tigapuluhtahun tahun yang lalu. Malam penuh kesunyian di kampung Heri, sesekali bintang memancarkan cahaya kekagumanya pada anak laki-laki yang sedang beranjak dewasa itu, yang tak lain adalah anak seorang guru SD, pak Zaidan. “ Her, nanti habis isya ikut bapak ke kampung sebelah, ada tahlilan “ Kata pak Zaidan usai tadarus lepas sholat magrib, pak Zaidan dikenal sebagai pak kyai oleh masyarakat sekitar, meskipun Beliau tidak mempunyai pondok pesantren namun beliaulah yang mensyiarkan islam kepada masyarakat dimana Beliau tinggal. “insyaallah pak, Heri akan selesaikan PR dulu”, kata anak berusia tujuh tahun itu.
“assalamu’alaikum, kami berangkat dulu bu” Heri dan ayahnya hampir bersamaan mengucapnya. Dengan sepeda Heri dan ayahnya berangkat menuju lokasi tahlilan. Tahlilan memang sudah menjadi tradisi masyarakat dimana Heri tinggal. Cahaya senthir sesekali mengintintip keluar, menembus renggangya anyaman gedheg beberapa rumah yang mereka lewati malam itu . “assalamu’alaikum kang, mari-mari, saya duluan” Sapa pak Zaidan kepada bapak-bapak bersarung dan berpeci yang menuju lokasi tahlilan. Tak lebih dari empat puluh orang tlah berkumpul, acara tahlilan dimulai, pak Zaidanlah yang memimpinya.
“terima kasih pak kyai”, ucap tuan rumah sambil memberikan sebesek berkat berisi bermacam-macam makanan. “assalamu’alaikum” pak Zaidan dan Heri mengucapkan salam perpisahan. Dipangkulah besek itu oleh Heri “ Alhamdulillah, esok hari bisa makan telur “ katanya dalam hati. “ Pak, bolehkah Heri menyampaikan sesuatu yang tlah menjadi keinginan Heri?” Tanya Heri kepada sang ayah yang mengayuh sepeda. “silakan nak” jawab pak Zaidan singkat. “ Heri kepingin mondok pak, ingin sekali belajar agama ke Termas, jika bapak keberatan mungkin di Krapyak saja cukup” ungkap Heri dengan penuh harapan. Pak Zaidan terdiam. “Pak” Ucap Heri kembali. “inalillahi”, sepeda yang ia naiki melewati jalan yang berluang cukup dalam, besek yang dipangku Heri hampir semua jatuh isinya, tersisalah nasi, satu telur dan dua apem. “ini semua karena permintaanku barusan kepada bapak, massyaallah” katanya dalam hati. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Heri karena ia merasa bersalah, begitu pula pak Zaidan.
Seperti biasanya, ketika waktu shubuh dating keluarga sederhana itu telah menyambutnya dengan air wudhu dan jamaah sholat shubuh serta tadarus al-quran. “Her, maafkan bapak atas kejadian semalam. Bapak tak menyangka kamu punya keinginan yang sangat mulia, bapak juga ingin sekali anak-anak bapak belajar mendalami agama di pesantren, namun, bapakmu ini hanyalah seorang guru honor SD, alhamdulilah bapak sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan kamu dan adik-adikmu, jika kamu mau mondok apa harus mengorbankan sekolah adik-adik kamu lantaran uangnya untuk kebutuhanmu” kata pak Zaidan dengan nada melemah. “apapun yang menjadi keptusan ibu dan bapak itulah yang terbaik untuk Heri” kata Heri tegas. “ sebentar lagi kamu mau masuk SMP nak, bapak akan mendaftarkan kamu ke SMP Muhammadiyah di dekat kecamatan itu, bapak tak akan membiarkan kamu lepas dari pendidikan agama” kata pak Zaidan. Memang tak ada pilihan selain sekolah di SMP negeri dan SMP Muhammadiyah.
SMP Muhammadiyah. Yah, disitulah sekarang Heri belajar banyak agama dan sebagian ajaran yang mulai ia ketahui perbedaanya. “ kabiron” dalam doa iftitahnya ketika sholat kini dipelajrinya dengan versi “allahummabangid”, disitulah pemikiran Heri mulai dihadapkan dengan perbedaan-perbedaan dalam beribadah. Bukanlah suatu yang ia takuti, justru itulah yang menjadi sarapan Heri untuk dikajinya. Tak tanggung-tanggung, berbagai kegiyatan di sekolahnya ia ikuti, hingga ia terpilih menjadi ketua OSIS, di bidang akademik pun Heri selalu nomor satu disekolahnya, hingga hampir tiga tahun ia sekolah ia mendapatkan beasiswa dari sekolahnya. berbagai ekstrakulikuler juga tak kalah, “ Her, minggu depan ikut bapak ya, kamu Qiroah di Kandepag Bantul, tunjukkan bahwa SMP Muhammadiyah ini memiliki bintang seperti kamu” ajak pak Badri guru agama Heri. “insyaallah, pak” Heri menjawab dengan sepenuh hati.
Dirumahnya kini Heri meluangkan waktunya untuk ikut mengajar ngaji di madrasah yang didirikan ayahnya, anak-anak seusia Heri juga banyak yang membantunya, dengan kekompakanya Heri dan teman-temanya ikut ngaji kitab di Krapayak tiap minggu sore. “ eh, Ali ya,assalamu’alaikum”, “Heri, waalaikum salam Her, Barokalloh” kedua anak muda itu berangkulan dan duduk di undak-undakan depan serambi. “ kamu nyantri di sini ya Li?” Tanya Heri,”Alhamdulillah Her, kamu santri baru disini kah?” Tanya Ali balik, “ngalong saja Li, ini aku bersama sahabat-sahabat dari kampung, biasa ikut kajian kitab rutin Minggu sore” Heri dan Ali berbincang panjang lebar, mereka saling kenal ketika lomba MTQ.
Kamis pagi Heri bersama pak Badri menuju kantor depag Bantul. Merdu suara ayat-ayat suci al-quran yang dibacakan Heri membuat hadirin takjub akan keindahan suaranya. “shodakallahuladzim”, Heri membawa kita suci di dadanya, ia berjalan tertunduk penuh hormat kepada seluruh hadirin, “ nak Heri, sini bapak mau bicara”, seorang lelaki berbaju batik itu memanggil Heri . “ nak Heri itu kan yang juara MTQ di provinsi kemaren kan?” Tanya bapak itu, “iya pak, maaf bapak ini . . .” “ bapak adalah kepala sekolah SMA Muhammadiyah 4 Jogja”, bapak berbaju batik itu segera memotong pembicaraan Heri sambil tersenyum. “ nak Heri sekarang kelas berapa?” lanjut bapak itu, “ kelas 3 pak, sebentar lagi sudah mau ujian, mohon doanya pak” jawab Heri. “ nak Heri, bapak menawarkan beasiswa untukmu jika kamu mau sekolah di SMA Mupat” sungguh kata-kata bapak itu membuat Heri tercengang, “dengan senang hati pak, tetapi akan Heri konsultasikan dulu dengan bapak dan ibu” Heri menanggipinya dengan tegas dan penuh kegembiraan.
Tigabulan kemudian, SMA Muhammadiyah 4 Jogja. Detik, menit, jam hingga waktu berganti tanpa Arloji di tangan Heri ia lalui dengan penuh semangat. Anak kampung terpencil di Bantul itu kini berstatus menjadi pelajar SMA Mupat, dengan sepeda yang dikayuhnya melewati puluhan kilometer jalan tak pernah menjadi penghalang cita-citanya. “ e,,,,, anak kampung sudah nyampai sekolah “ kata-kata itu sering terdengar di telinga Heri, karena memang mayoritas siswa di sekolahnya adalah anak-anak kota dan anak-anak orang menengah ke atas ekonominya. “Alhamdulillah, Allah masih memberikanku keselamatan sampai di sekolah” jawabnya singkat.
Hampir tiga tahun, predikat Heri yang dikenal sebagai anak kampung kini sudah tidak berbalik menjadi siswa teladan. “Her, kamu temanku kan, ayolah bantu aku mengerjakan tugas bahasa inggris” pinta Agung, anak orang kaya yang sering mengejek Heri sebagai anak kampung. “Bolehlah, tapi ada syaratnya” Heri mulai mengeluarkan tak-tiknya, “berapapun maumu, akan ku bayar “ Agung mendahuluinya, “bukan bayaran, tapi nanti kamu ikut aku jamaah sholat dhuhur, setelah sholat baru aku bantu selesaikan tugasmu” kata Heri sambil tersenyum. Agung menuruti permintaan Heri, siang itu Agung sholat berjamaah dengan Heri, dan Heri menjadi imamnya. “ayolah her, cepat” kata Agung ketika mereka sholat. “”eitsss, wiridan dulu?” saut Heri, “apa itu?” Tanya Agung, Heri tlah memulai wiridan, Agungpun dengan seksama memperhatikanya.
Sang mentari yang lelah mengantarkan aktivitas anak adam mulai berjalan pulang, hari itu adalah hari Sabtu, seperti biasanya Heri meluangkan waktunya untuk menginap di pesantren dimana ia sering mengikuti pengajian. Dikayuhnya sepeda menuju pesantren, ia ingin segera bertemu dengan Ali sahabatnya yang mondok di pesantren itu, “cepet…cepet…cepet….ada orang” suara itu terdengar dari kebun di seberang jalan yang di lewati Heri, ditengoklah kea rah suara itu, tiga orang bercadar sarung Nampak membawa lari pisang dari kebun itu. “masyaallah” ucap Heri lirih, tidak banyak yang diperbuat Heri, lalu ia melanjutkan kayuhan sepedanya.
Perlahan, senja menyambut indahnya lantunan adzan magrib,suasana pesantren mulai terasa. Kaum muda bersarung menuju masjid pesantren untuk melaksanakan sholat berjamaah dilanjutkanya wiridan bakdal sholat. Tak seperti hari-hari biasanya jika setelah magrib mereka harus menyimakkan alquran kepada kyainya, malam minggu jadwalnya adalah berzanjen. Dengan penuh semangat mereka melantunkan syair atas Nabi agung Muhammad.
“Her, nyari angin yuk, makan di angkringan saja” Ajak Ali. Lalu mereka berjalan menuju angkringan yang tak jauh dari pesantren, “suasana seperti tadi Li yang ngangeni” kata Heri, “makanya kamu disini saja” tambah Ali. “yah, kamu kan tau gimana keadaan orangtuaku, aku tak ingin membuat susah. Aku berencana, besok jika aku diberi kesempatan kuliah daripada aku ngekos aku akan di pesantren ini saja Li” Heri berbagi dengan Ali, “ ide bagus itu Her, memangnya kamu mau kuliah dimana?” Tanya Ali, “insyaallah di IAIN Kalijaga Li, biar padu pendidikan dan agamanya” kata Heri, pandangan Heri tertuju pada segerombolan anak muda yang hampir sampai di angkringan, namun mereka berbalik arah. “massyaallah, sarung itu seperti yang digunakan segerombolan orang yang tadi mengambil pisang, semoga saja bukan mereka, naudzubillah” kata Heri dalam hati, “Her, her..” Ali menepuk pundak Heri yang sedang terdiam kosong.
Di pesantren, tak jarang terjadi kehilangan barang-barang pribadi. Heri sering prihatin jika mendengar cerita dari Ali dan beberapa anak pesantren, bukan tidak ada hukuman jika ketahuan mencuri, namun pendidikan akhlaq di pesantren itu dirasa kurang bagi Heri. “Yaa Allah, jika suatu saat Kau beri kesempatan aku untuk mendidik anak-anak di pesantren yang aku dirikan, maka berikanlah kemampuan untuk mendidik santri-santriku baik di bidang agama, pendidikan dan akhlaq “ doanya sesaat dalam hati.
Masa-masa SMA tlah begitu cepat dirasa Heri karena berbagai macam prestasi dan kesibukanya yang selalu membuat hatinya gembira dan ikhlas. Bangku kuliah tlah di depan mata. “inilah waktu yang tepat untuk memulai mewujudkan mimpiku” hati Heri kembali tergugah. Seperti yang ia rencanakan, ia akan di pesantren, Heri berjanji kepada kedua orangtuanya bahwa ia hanya membutuhkan uang untuk biaya kuliah saja, kebutuhan lain termasuk untuk biaya hidup di pondok akan ia cukupi dengan hasil jerih payahnya. Di Fakultas Tarbiyah jurusan Bahasa Inggris yang dipilihnya. Heri yang suka berorganisasi kini mulai aktif di PMII, ia lebih sering banyak berguru dengan kakak seniornya jebolan pondok pesantren ternama, dari situlah ia banyak tau tentang managemen dan pengelolaan pesantren. Tak tanggung-tanggung, meskipun aktivis sekaligus santri IP Heri selalu diatas 3.5 makanya ia dekat dengan banyak dosenya, dan masalah lobby dia ahlinya.
Tidak perlu waktu yang lama untuk meraih gelar sarjananya, untuk melanjutkan S2 dan S3 Heri juga mendapatkan beasiswa dari IAIN, karena ia termasuk dalam program beasiswa pembibitan Dosen. “aku akan membuktikan bahwa kaum bersarung, berpeci dan bersandal jepit bukanlah ahli wirid saja atau bahkan sebagian orang mengganggap ahli bid’ah, tetapi kaumku adalah kaum intelek yang bisa mewujudkan generasi islami, mandiri dan berakhlaq, tak cukup bagiku ilmu yang begitu tinggi jika tidak aku tularkan kepada orang lain” fikirnya. Dari situlah Heri berkeinginan untuk segera membuat pondok pesantren.
Sambil menjalani kuliah S2nya kini Heri bersama kawan dekatnya Ali dan Yudian mendirikan pondok pesantren yang diberi nama “ASWAJA LINTANG SONGO” Aswaja berasal dari kata Ahlusunnah wal jama’ah yang artinya golongan orang-orang yang ibadahnya berdasarkan kepada Alquran dan Hadist, sementara pengambilan hukumnya mengikuti mayoritas ahli fiqih, Lintang Songo berarti Sembilan wali yang menyebarkan syiar islam khususnya di tanah jawa, dari situlah ia akan memndidik santrinya belajar agama, ilmu pengetahuan serta akhlaq, ia tak ingin bahwa santrinya hanya rajin ngaji tetapi akhlaqnya dan pengetahuanya nol. Santri yang ia terima hanyalah santri yang kulian di PTN dan memiliki IP di atas 3.
Puluhan kilo meter jalan yang panjang, sepanjang waktu yang tak pernah menjadi penghalangnya tlah menjawab kesungguhan dan keiklhasan seorang Heri, tak ada doa yang tak dikabulkan melainkan tanpa usaha, kejujuran dan keberanian.
cerpen ini ditulis oleh Putri Maharani Putrinya Pak Heri
maav teman-teman...isie ACAK-ACAKAN,,,,,,FOKUS UJIAANNNNNNNN


0 komentar:
Post a Comment